FKIP UKI
MENGUKIR SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA
Semua orang tentu mempunyai pilihan. Tak terkecuali bagi
seorang pelajar SLTA yang ingin melanjutkan studi.”GALAU” kata yang tepat untuk
menggambarkan keadaan seorang pelajar ketika ingin menentukan di mana akan
berkuliah dan apa jurusan yang akan di pilih. Saya adalah salah satunya. Ketika
memutusakan untuk merantau dari Medan dan berkuliah di luar kota, saya ibarat
kapal di tengah lautan dan tanpa pengemudi.Terombang ambing tanpa arah. Namun,
tanpa di sadari ada sosok penolong yang setia menyertai saya. Dia bagai angin
yang perlahan-lahan membawa saya ke tempat yang tidak saya duga sebelumnya.
Tempat itu bernama UKI. Dan sosok penolong itu ialah Yesus Tuhanku. Di UKI,
saya memilih FKIP sebagai wadah di mana saya akan dibentuk. Kenapa harus FKIP?
Kerinduan saya menjadi pengajar, menjadi alasan utama saya memilih FKIP.
Setiap universitas pasti punya
kegiatan yang wajib di ikuti oleh calon-calon mahasiswa. Misalnya UKI. Salah
satu kegiatan UKI ialah PPMB (Program Pembinaan Mahasiswa Baru) selama satu
minggu.Ada aturan-aturan yang di buat untuk memperlancar kegiatan tersebut.
Beberapa di antaranya ialah disiplin waktu dan berlaku untuk semua termasuk panitia
kegiatan.Artinya setiap mahasiswa baru dan panitia tidak boleh terlambat.
Saya salah satu mahasiswa baru yang tempat tinggalnya lumayan
jauh. Maka dari itu, saya sering sekali terlambat dan di hukum lari keliling
lapangan. Namun, dengan aturan itu saya belajar untuk bisa mandiri dan mengatur
waktu yang baik.Terlepas dari itu, setiap kegiatannyaselalu menciptakan suasana
nyaman, kekeluargaan yang erat, dan tentunya menyenangkan. Semua suku dan agama
di persatukan dan di perlakukan sama dalam “KASIH”. Bagi saya kegiatan itu
sangat bermanfaat dan tidak akan terlupakan. Saat-saat itu menjadi kebahagiaan
tersendiri bagi saya dan teman-teman lainya.
Pada tanggal 5 september 2016, semua
mahasiswa baru memulai proses perkuliahan di fakultas masing-masing. Dengan
sukacita, saya melangkahkan kaki dari tempat tinggal saya menuju FKIP yang akan
menjadi rumah ke dua bagi saya. Ketika berada di FKIP, suasananya sangat ramai.
Sebab, masa liburan telah selesai dan aktivitas perkuliahan mulai berjalan kembali
seperti biasanya. RO, menjadi kegiatan awal yang kami lakukan sebelum memulai
perkuliahan. Dengan berjalannya waktu saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan
keadaan dan lingkungan yang baru itu. Ketika bertemu dengan kakak senior dan
dosen-dosen, kami saling memberikan salam sehingga tercipta suasana nyaman
dalam diri saya.Sungguh pengajar- pengajarnya baik, ramah dan profesional.
Selain itu, pegawai-pegawainya memberikan pelayanan dengan baik dan Senior-senior
FKIP pun sangat perhatian kepada kami mahasiswa baru serta sering membantu kami
dalam aktivitas perkuliahan. Keadaan seperti ini, jarang saya temukan di tempat
perkuliahan lain. Saya merasa kagum dan bangga telah memilih FKIP.
Bagi saya, FKIP itu keluarga. Mengapa
saya berkata demikian.? Alasannya karena di FKIP pengajar dan mahasiswa seperti
seorang anak dan orangtuanya dan dalam keadaan tertentu, mereka juga bisa
menjadi teman. Hal itu terbukti ketika saya bertemu dengan kaprodi PAK bernama Pdt. Stefanus Daniel
untuk wawancara. Mungkin waktunya terlalu singkat. Namun, beberapa nasihatnya
menggambarkan sosok orang tua dalam kehidupan saya dan pembawaannya bisa juga
menjadi sosok teman. Saat itulah ada gambaran “keluarga” ketika saya berada
dalam lingkup FKIP.
“Pendidikan adalah jembatan kesuksesan
dan guru adalah pemandu kesuksesan” Slogan pendidikan ini menumbuhkan harapan
yang besar dalam diri saya sebagai bagian dari FKIP. Kerinduan saya,ialah agar
nilai-nilai kristiani yang ada dalam UKI khususnya di dalam FKIP tetap ada dan
di terapkanoleh pengajar-pengajarnya, pegawai-pegawainya dan seluruh
mahasiswanya. Selain itu, semoga FKIP mampu menjadi teladan bagi
fakultas-fakultas lain dalam menghasilkan lulusan terbaik dan bermutu.
Untuk
mencapai tujuan bersama itu, perlu adanya kerjasama sebagai tim yang solid.
Dalam FKIP dosen dan mahasiswa yang harus menciptakan dan menerapkannya. Ketika sudah beberapa hari berkuliah, saya
selalu berpikir untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan membanggakan. Baik
untuk diri saya, keluarga, FKIP, UKI, bangsa, dan tentunya menyenangkan Tuhan.“Berdoa,
belajar dan tekun bekerja keras” menjadi langkah awal yang saya pakai untuk turut
memiliki peran penting dalam mewujudkan kerinduan itu. Saya siap menjadi tanah
liat yang pada hakekatnya mudah di bentuk. Kemudian di bentuk oleh
pengrajin-pengrajin profesional di dalam FKIP UKI. Mereka akan selalu siap
membentuk tanah itu menjadi suatu karya yang bernilai tinggi.Sehingga ketika
saya telah selesai menempuh pendidikan di FKIP UKI, saya memiliki kriteria
pekerja yang di butuhkan bangsa indonesia.
Dan akan ada kalimat indah, bawasannya FKIP membutuhkan mahasiswa, UKI
membutuhkan FKIP dan Indonesia membutuhkan UKI.
Oleh karena
itu, percayalah bahwa segala sesuatu yang Tuhan tetapkan dan di manapun itu,
akan mendatangkan kebaikan. Pengertian itu, membuat saya tidak akan menyesal
telah memilih FKIP dan UKI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar