Minggu, 01 Oktober 2017


FKIP UKI MENGUKIR SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA
            Semua orang tentu mempunyai pilihan. Tak terkecuali bagi seorang pelajar SLTA yang ingin melanjutkan studi.”GALAU” kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan seorang pelajar ketika ingin menentukan di mana akan berkuliah dan apa jurusan yang akan di pilih. Saya adalah salah satunya. Ketika memutusakan untuk merantau dari Medan dan berkuliah di luar kota, saya ibarat kapal di tengah lautan dan tanpa pengemudi.Terombang ambing tanpa arah. Namun, tanpa di sadari ada sosok penolong yang setia menyertai saya. Dia bagai angin yang perlahan-lahan membawa saya ke tempat yang tidak saya duga sebelumnya. Tempat itu bernama UKI. Dan sosok penolong itu ialah Yesus Tuhanku. Di UKI, saya memilih FKIP sebagai wadah di mana saya akan dibentuk. Kenapa harus FKIP? Kerinduan saya menjadi pengajar, menjadi alasan utama saya memilih FKIP.
Setiap universitas pasti punya kegiatan yang wajib di ikuti oleh calon-calon mahasiswa. Misalnya UKI. Salah satu kegiatan UKI ialah PPMB (Program Pembinaan Mahasiswa Baru) selama satu minggu.Ada aturan-aturan yang di buat untuk memperlancar kegiatan tersebut. Beberapa di antaranya ialah disiplin waktu dan berlaku untuk semua termasuk panitia kegiatan.Artinya setiap mahasiswa baru dan panitia tidak boleh terlambat.
Saya salah satu mahasiswa baru yang tempat tinggalnya lumayan jauh. Maka dari itu, saya sering sekali terlambat dan di hukum lari keliling lapangan. Namun, dengan aturan itu saya belajar untuk bisa mandiri dan mengatur waktu yang baik.Terlepas dari itu, setiap kegiatannyaselalu menciptakan suasana nyaman, kekeluargaan yang erat, dan tentunya menyenangkan. Semua suku dan agama di persatukan dan di perlakukan sama dalam “KASIH”. Bagi saya kegiatan itu sangat bermanfaat dan tidak akan terlupakan. Saat-saat itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya dan teman-teman lainya.
Pada tanggal 5 september 2016, semua mahasiswa baru memulai proses perkuliahan di fakultas masing-masing. Dengan sukacita, saya melangkahkan kaki dari tempat tinggal saya menuju FKIP yang akan menjadi rumah ke dua bagi saya. Ketika berada di FKIP, suasananya sangat ramai. Sebab, masa liburan telah selesai dan aktivitas perkuliahan mulai berjalan kembali seperti biasanya. RO, menjadi kegiatan awal yang kami lakukan sebelum memulai perkuliahan. Dengan berjalannya waktu saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan yang baru itu. Ketika bertemu dengan kakak senior dan dosen-dosen, kami saling memberikan salam sehingga tercipta suasana nyaman dalam diri saya.Sungguh pengajar- pengajarnya baik, ramah dan profesional. Selain itu, pegawai-pegawainya memberikan pelayanan dengan baik dan Senior-senior FKIP pun sangat perhatian kepada kami mahasiswa baru serta sering membantu kami dalam aktivitas perkuliahan. Keadaan seperti ini, jarang saya temukan di tempat perkuliahan lain. Saya merasa kagum dan bangga telah memilih FKIP.
Bagi saya, FKIP itu keluarga. Mengapa saya berkata demikian.? Alasannya karena di FKIP pengajar dan mahasiswa seperti seorang anak dan orangtuanya dan dalam keadaan tertentu, mereka juga bisa menjadi teman. Hal itu terbukti ketika saya bertemu dengan  kaprodi PAK bernama Pdt. Stefanus Daniel untuk wawancara. Mungkin waktunya terlalu singkat. Namun, beberapa nasihatnya menggambarkan sosok orang tua dalam kehidupan saya dan pembawaannya bisa juga menjadi sosok teman. Saat itulah ada gambaran “keluarga” ketika saya berada dalam lingkup FKIP.
“Pendidikan adalah jembatan kesuksesan dan guru adalah pemandu kesuksesan” Slogan pendidikan ini menumbuhkan harapan yang besar dalam diri saya sebagai bagian dari FKIP. Kerinduan saya,ialah agar nilai-nilai kristiani yang ada dalam UKI khususnya di dalam FKIP tetap ada dan di terapkanoleh pengajar-pengajarnya, pegawai-pegawainya dan seluruh mahasiswanya. Selain itu, semoga FKIP mampu menjadi teladan bagi fakultas-fakultas lain dalam menghasilkan lulusan terbaik dan bermutu.
Untuk mencapai tujuan bersama itu, perlu adanya kerjasama sebagai tim yang solid. Dalam FKIP dosen dan mahasiswa yang harus menciptakan dan menerapkannya.  Ketika sudah beberapa hari berkuliah, saya selalu berpikir untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan membanggakan. Baik untuk diri saya, keluarga, FKIP, UKI, bangsa, dan tentunya menyenangkan Tuhan.“Berdoa, belajar dan tekun bekerja keras” menjadi langkah awal yang saya pakai untuk turut memiliki peran penting dalam mewujudkan kerinduan itu. Saya siap menjadi tanah liat yang pada hakekatnya mudah di bentuk. Kemudian di bentuk oleh pengrajin-pengrajin profesional di dalam FKIP UKI. Mereka akan selalu siap membentuk tanah itu menjadi suatu karya yang bernilai tinggi.Sehingga ketika saya telah selesai menempuh pendidikan di FKIP UKI, saya memiliki kriteria pekerja yang di butuhkan bangsa indonesia. Dan akan ada kalimat indah, bawasannya FKIP membutuhkan mahasiswa, UKI membutuhkan FKIP dan Indonesia membutuhkan UKI.
Oleh karena itu, percayalah bahwa segala sesuatu yang Tuhan tetapkan dan di manapun itu, akan mendatangkan kebaikan. Pengertian itu, membuat saya tidak akan menyesal telah memilih FKIP dan UKI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar